10 Hal yang MUI Haramkan di Medsos, Nomor 7 Mengejutkan

Ilustrasi/Getty Images

BANDUNG, (PR).- Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali mengeluarkan fatwa haram mengenai penggunaan media sosial. Menurut Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat Hasanudin AF, kini keberadaan media sosial sudah sering disalahgunakan menjadi perantara untuk menebar hal-hal yang bersifat negatif atau mudarat.

“Banyak hal yang dilansir di medsos itu terkait ujaran kebencian, berita bohong, pornografi dan itu menyebar luas itu di masyarakat,” ujarnya saat berbincang dalam siaran di Radio PRFM, Senin 5 Juni 2017.

Menurutnya, MUI pun tidak gegabah dalam pengambilan keputusan itu. Keputusan diambil setelah melalui berbagai kajian termasuk masukan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika.

“Secara moral sudah tentu sebagai seorang muslim harus mengikuti ajaran agama yang ada di Alquran dan sunah rasul. Media sosial itu ibarat pisau bermata dua, bergantung digunakannya.  Kalau digunakan positif, ya akan positif, kalau negative, ya akan negatif. Saya kira yang sifatnya negatif dan memberikan mudarat ke orang lain itu haram. Kalau jadi tuntunan sudah barang tentu itu hukumnya halal,” tuturnya.

Berdasarkan dari pendapat para ulama dan pleno, setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial diharamkan untuk:

1. Melakukan gibah, fitnah, namimah, dan penyebaran permusuhan.

2. Melakukan perisakan (bully), menyebarkan ujaran kebencian dan permusuhan atas dasar suku, agama, ras, dan antargolongan.

3. Menyebarkan hoaks serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik seperti info tentang kematian orang yang masih hidup.

4. Menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala hal yang terlarang secara syari.

5. Menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai tempat dan atau waktunya.

6. Memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi yang tidak benar kepada masyarakat.

7. Aktifitas buzzer di media sosial yang menjadikan penyediaan informasi berisi hoaks, gibah, fitnah, namimah, perisakan, aib, gosip, dan hal-hal lain sejenis sebagai profesi untuk memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun nonekonomi. Demikian pula orang yang menyuruh, mendukung, membantu, memanfaatkan jasa dan orang yang memfasilitasinya.

8. Memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi tentang hoaks, gibah, fitnah, namimah, aib, perisakan, ujaran kebencian, dan hal-hal lain sejenis terkait pribadi kepada orang lain.

9. Memproduksi dan/atau menyebarkan konten serta informasi yang bertujuan membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar, membangun opini agar seolah-olah berhasil dan sukses, menyembunyikan kebenaran, serta menipu kalayak.

10. Menyebarkan konten yang bersifat pribadi kepada publik. Padahal konten tersebut diketahui tidak patut untuk disebarkan kepada publik seperti pose yang mempertontonkan aurat.***

Share

Tentang Rinaldo Jonathan

Admin of this site.
Tulisan ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan