Bahasa dan Sastra Indonesia – Membaca

Mengekspresikan Dialog Para Tokoh dalam Pementasan Drama   Suatu naskah drama belumlah disebut sebagai drama sebelum diperankan dan dipentaskan. Kata drama berasal dari bahasa Yunani dram yang berarti ‘ gerak ‘.   Unsur-unsur pementasan drama

  1. Naskah
  2. Pemain/actor
  3. Sutradara
  4. Tata rias
  5. Tata busana
  6. Tata panggung
  7. Tata suara
  8. Tata lampu
  9. Penonton

  Sutradara adalah pemimpin dalam pementasan drama. Seorang sutradara tidak hanya pandai mengarahkan, melainkan juga pandai melakukannya. Jadi, seorang sutradara hendaknya juga merupakan seorang pemain yang baik.   Tugas pokok seorang sutradara sebagai berikut.

  1. Membuat perencanaan dan melaksanakannya
  2. Memilih naskah
    1. Menentukan interpretasi skenario
    2. Memilih dan melatih para pemain
    3. Dalam merencanakan pementasan, sutradara bekerja sama dengan pengarang naskah, penata panggung, penata lampu, dan lain-lain.

  Hal – hal yang perlu diperhatikan sebelum memerankan naskah drama adalah sebagai berikut.

  1. Membaca dan memahami naskah drama dengan saksama

Membaca naskah drama bertujuan untuk :

  1. mengetahui kalimat-kalimat dialog yang harus diucapkannya
  2. menghafalkan dialog yang harus dibawakan
  3. mengetahui lawan dialog
  4. mengetahui kapan atau pada bagian mana dia harus menyampaikan dialog
  5. mengetahui alur atau jalan ceritanya
  6. mengetahui isi pokok/inti dialog
  7. menganalisis naskah drama
  8. menonton pertunjukan drama
  9. membagi peran
  10. masing-masing pemain berlatih dan melakukan teknik-teknik memerankan drama

  Latihan Berdialog   Tahap-tahap latihan dialog, sebagai berikut.

  1. Mula-mula, dialog dilakukan secara bebas, tanpa naskah, seolah-olah sedang memerankan tokoh tertentu. Pada bagian ini, mungkin dialognya tak terarah, tetapi tidak apa-apa karena fungsinya untuk melancarkan dialog saja.
  2. Berdialog dengan membaca naskah. Naskah drama harus dibaca berulang-ulang silih berganti dengan lawan main, kemudian dilafalkan.
  3. Mempraktikkan dialog tanpa naskah dengan tanpa gerakan.
    1. Setelah lancar, kemudian mempraktikkan dialog tanpa naskah dengan disertai gerakan-gerakan ekspresi wajah dan anggota tubuh

                  Teknik Memerankan Drama   Waluyo ( 2001 : 109 ) menjelaskan bahwa berperan adalah menjadi orang lain sesuai dengan tuntutan lakon drama. Berperan harus memerhatikan hal-hal berikut.

  1. Kreasi yang dilakukan pemain drama ( aktor atau aktris )
  2. Peran yang dibawakan harus bersifat alamiah dan wajar
  3. Peran yang dibawakan harus  disesuaikan dengan tipe, gaya, jiwa, dan tujuan dari pementasan.
    1. Peran yang dibawakan harus disesuaikan dengan periode tertentu dan watak yang harus dipresentasikan

  Menurut Oscar Brocket dalam Waluyo ( 2001 : 116-119 ) dalam latihan acting terdapat tujuh langkah yang harus dilakukan, yaitu sebagai berikut.  

  1. Latihan Tubuh

  Latihan tubuh mengacu pada latihan ekspresi secara fisik. Berlatih bergerak secara luwes, berdisiplin terhadap peran yang dibawakan, dan ekspresif sesuai dengan watak dan perasaan aktor yang dibawakan. Latihan tubuh sering kali dilakukan dengan memberikan latihan dasar akting, seperti : menari, balet, senam, atau silat.  

  1. Latihan Suara

  Latihan suara dapat diartikan latihan mengucapkan  suara secara jelas , nyaring, mudah ditangkap, komunikatif, dan sesuai artikulasinya. Dapat juga berarti latihan penjiwaan suara. Warna suara harus disesuaikan dengan watak peran, umur peran, dan keadaan social peran yang dimainkan. Nada suara juga harus diatur sehingga membedakan peran yang satu dengan yang lainnya.  

  1. Latihan Observasi dan Imajinasi

  Untuk menghayati karakter tokoh yang diperankan, aktor mulai mengobservasi setiap watak, tingkah laku, dan motivasi orang-orang yang dijumpainya. Jika ia harus memerankan watak dan tokoh tertentu, maka observasi difokuskan pada tokoh yang mirip atau sama. Jika memungkinkan, observasi dilakukan dalam waktu yang lama sehingga dapat mengamati tokoh tersebut secara mendetail. Hasil observasi tersebut dihidupkan dengan imajinasi dan ingatan emosi aktor sehingga dapat ditampilkan secara meyakinkan, benar-benar hidup, dan bernilai estetis.  

  1. Latihan Konsentrasi

  Konsentrasi diarahkan untuk melatih aktor membenamkan dirinya ke dalam watak dan pribadi tokoh yang dibawakan. Konsentrasi sangat penting dalam penjiwaan peran karena dengan kekuatan konsentrasinya, aktor dapat memusatkan diri pada pentas. Seorang aktor harus merasa bahwa dunianya ada dalam pentas tersebut. Konsentrasi harus dimulai sejak latihan pertama dan ditingkatkan menjelang masuk pentas serta selama pementasan.  

  1. Latihan Teknik

  Latihan teknik di sini berkaitan dengan latihan masuk, memberi isi, memberi tekanan, mengembangkan permainan, penonjolan, ritme, timing yang tepat dan hal lain berkaitan dengan penyutradaraan. Pengaturan tempat pentas, pergeseran aktor lain ke sisi berikutnya, posisi aktor, teknik loncat, atau teknik bergerak lainnya merupakan bagian dari latihan teknik.  

  1. Sistem Akting

  Ada dua pendekatan dalam menghayati peran, yaitu metode dan teknik. Metode behubungan dengan latihan sukma atau latihan “unsur dalam”. Pendekatan teknis berhubungan dengan teknik bermain yang merupakan faktor luar atau fisik.   Bidang akting ada tiga, yaitu :

  1. Akting yang bersifat teknis, misalnya : latihan pernafasan, latihan vokal, dan latihan penonjolan.
  2. Latihan mental ( intelektual ) berupa latihan watak dengan menganalisis watak dari sudut fisik, psikis, dan sosial;  memahami pikiran; feeling; action; dan hubungannya dengan permainan serta peran yang lain.
  3. Emosi( spiritual ) dalam drama harus dilatih, seorang kator harus menghadirkan emosinya sesuai dengan tuntutan lakon.

 

  1. Memperlancar Skill dan Latihan

  Memperlancar skill dan latihan memerlukan imajinasi. Dengan adanya imajinasi. Semua latihan yang sifatnya seperti menghafal dapat dikuasai dengan lancar dan tampak seperti kejadian sebenarnya.

Share
Posted in Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan