Gempa, Sirene dan Jaringan Telekomunikasi di Mentawai Rusak

Gempa, Sirene dan Jaringan Telekomunikasi di Mentawai Rusak  

TEMPO.COPadang – Sirene tsunami yang rusak dan jaringan telekomunikasi yang hilang saat gempa bumi pada Rabu malam membuat warga Mentawai panik. Camat Sikakap, Pagai Utara, Kepulauan Mentawai, Happy Nurdiana, mengatakan kerusakan jaringan telekomunikasi itu membuat dia kesulitan berkomunikasi dengan pemerintah daerah di Tuapeijat, Pulau Sipora.

“Jaringan Telkomsel langsung hilang. Jaringan Telkom telepon kantor dan telepon rumah juga sudah dua minggu rusak, sehingga tadi malam kami tidak bisa menghubungi Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau bupati. Padahal masyarakat sudah panik akibat trauma kena tsunami 2010,” kata Happy Nurdiana, Kamis, 3 Maret 2016.

Karena hilangnya jaringan telepon, Happy Nurdiana juga tidak bisa berkomunikasi dengan BPBD dan Pemerintah Kabupaten Mentawai. “Radio juga tidak ada sehingga kami tidak bisa mengabarkan masyarakat yang tinggal jauh dari kecamatan,” ujarnya. “Sirene tsunami juga tidak bunyi karena sudah lama rusak.

Happy berharap agar Telkomsel segera memperbaiki jaringan komunikasi di Mentawai. “Jaringannya sering hilang,” tuturnya.

Gempa tadi malam dengan kekuatan 7,8 skala Richter, kata Happy, membuat warga panik. Apalagi ditambah dengan pesan pendek dari BMKG yang mengeluarkan peringatan dini tsunami. Siaran televisi juga menyiarkan berita peringatan tsunami dari gempa di Mentawai yang berkekuatan 8,3 SR.

“Penduduk yang punya anak langsung naik ke bukit, tinggal sebagian orang yang berjaga,” ucap Happy. “Saya dan aparat kecamatan juga patroli di pantai melihat air laut, tapi air tadi malam sedang pasang. Untungnya tidak ada korban jiwa atau jantungan dan sakit karena gempa. Kerusakan juga tidak ada.”

Walau sebagian wilayah pesisir barat daya di Pulau Pagai terkena tsunami pada 2010, hingga kini belum dibangun sistem mitigasi di situ. Pada gempa tersebut, lebih dari seratus orang tewas.

Shelter untuk evakuasi juga belum ada sehingga masyarakat hanya menumpang di rumah warga di atas bukit. “Kalau tidak tertampung, mereka bisa kedinginan di tempat terbuka. Apalagi tidak sempat membawa perbekalan,” ujarnya. “Jadi kami juga butuh shelter tempat berkumpul, juga tenda-tenda, radio komunikasi, dan sirene tsunami untuk menghadapi tsunami.”

Happy berharap tragedi yang terjadi saat tsunami 2010 di Pulau Pagai bagian barat daya tidak terulang hanya karena tak ada sistem telekomunikasi. Ketika itu, tsunami baru diketahui keesokan harinya.

“Kami baru tahu setelah melihat ada mayat di laut yang terdampar ke pantai Sikakap. Ternyata di daerah kami sudah terkena tsunami. Itu karena jaringan komunikasi sulit di Mentawai,” kata Happy.

Share

Tentang Rinaldo Jonathan

Admin of this site.

Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan