Live Performance Breakdown – Natal GPdI Ecclesia 16 Desember 2016

Note : English version coming soon. Will be updated later. 

Hari ini kita akan bahas live rig performance aku pas tanggal 16 Desember kemarin (tepat 10 hari yang lalu). Aku sendiri ditugaskan menjadi filler keyboard. Acara ini sendiri dilaksanakan di The Premiere Pekanbaru, dan ada Pongki Barata sebagai bintang tamunya!

Dan untuk pertama kalinya aku tahu kalau Pongki Barata ternyata masih ada hubungan saudara samaku.

Sudah merupakan tugas filler untuk membuat musik semakin megah. Dan untuk itu, pengorbanan yang dilakukan juga tidaklah sedikit. Lebih banyak sakit kepalanya.
Ya, beberapa lagu diciptakan memang untuk memberkati yang mendengar, tapi bukan yang memainkan. Dan disinilah perjalanan sakit kepala kita mulai.

Kadang kadang lebih enak melatih orchestra sendiri daripada bikin routing ginian.

Pertama … dari mana yang mau kita bahas?
Kelihatannya kita harus bahas alat alat apa saja yang digunakan.

  1. Maschine Mikro MK2 (sebenarnya drum pad apa aja juga bisa, nanti dijelaskan)
  2. KORG nanoKEY2 (personal preference, MIDI controller apa saja bisa)
  3. Lexicon Alpha (personal preference, soundcard apa saja juga bisa.)
  4. Yamaha Mixer (personal preference, mixer apa saja juga bisa. Malah lebih enak sebenarnya kalau mixer yang ada soundcardnya, seperti Yamaha MG10XU – kecuali Behringer XENYX, karena noise).
  5. Yamaha PSR-s910 dan PSR-s950.
    Program yang akan dipilih sama persis, jadi sebenarnya PSR-s910, PSR-s950, PSR-s970, A2000, Tyros 4, ataupun Tyros 5 bisa diganti ganti. Cuma karena kebetulan gereja punya PSR-s910 dan aku punya PSR-s950, dan kak icha (lead keyboard) pakai PSR-S970 nya gereja, dan hasil akhirnya sama juga … ya begitu. Ngalah deh.
  6. Alesis VX49 MIDI controller (Boleh diganti M-Audio CTRL49 ataupun Akai Advance – Aku pakai karena ada VIP softwarenya. Boleh ganti MIDI controller apapun kalau siap repot).
  7. Pedal sustain 2 buah. Terserah merknya, yang penting jalan ke keyboard YAMAHA.
    Aku sendiri lebih prefer yang model gini sih. Lebih simpel aja.
  8. Laptop Windows atau Mac OS (Linux at your own risk. Bisa sih sebenarnya. Cuma menurutku beresiko aja pake WINE + WineASIO).
    Aku pake HP Revolve 810, beli di Tokopedia, di sini. Ya, aku tau ini laptop tua. But seriously, laptop tua belum berarti laptop sampah. Intinya gimana kamu nyari yang CPUnya kuat aja.
    Aku sendiri saranin Core i5 keatas, RAM 8GB minimal, dan SSD.
  9. Native Instruments KOMPLETE 10.

    Ya, ini gambarnya Komplete 11. Komplete 10 udah gak dijual lagi. Anyway, Komplete 11 itu isinya seperti Komplete 10 ditambah produk baru NI.
    Kembali, ini personal preference. Kalau kamu lebih nyaman dengan EWQL ComposerCloud atau apapun, ya gue ga bisa larang. But you’re on your own.
  10. Ableton Live. Lite juga gak apa apa, cuma aku punya nya Suite. Lagian aku masih kuliah, dan berhak untuk diskon pelajar :hammers
    Yang Suite Educational sendiri harganya USD 449, dan yang bukan educational harganya USD 749 baru ngecek, ada diskon di web Ableton. Cek dah sendiri.
    Live Lite sendiri sering dijadiin bonus beli controller. Aku dapat kemarin pas beli Alesis VX49, Alesis Vortex, Alesis QX25 …
    Launchpad dan controller AKAI juga ngasih bonus Live Lite.

Lalu setupnya gimana?
Pertama dan paling penting, setel laptop ke High Performance, lalu colok charger!
Lalu, ada 5 track MIDI di Ableton Live.

  1. VIP
  2. Maschine Mikro
  3. Input from KORG nanoKEY2
  4. Input from PSR-s950
  5. Input from PSR-s950

Anggap ajalah gitu. Lagi gak depan alat juga, susah bikin gambar yang sama persis.

Pada saat input MIDI diberikan plugin, MIDI To akan berubah menjadi Audio To, karena dia tidak lagi mengeluarkan MIDI.
Audio To tetap ke Master.
Midi From channel 1 dibuat ke Alesis VX49. Midi From channel 2 dibuat ke None. Kenapa?

Maschine diketahui punya protokol rahasia sendiri untuk mengontrol Maschine 2 software. Walaupun mungkin yang digunakan adalah MIDI, dokumentasinya sama sekali tidak keluar untuk publik, dan jalurnya juga langsung, tidak melewati DAW.

Intinya, Live sendiri gak tau apa apa, tiba tiba Maschine bunyi aja, karena memang pada dasarnya Maschine Mikro gak lewat Live. Dia langsung ke plugin. Dan karena inilah, Maschine Software gak bisa ada 2.

Maschine sendiri cuma dipakai pada lagu yang dibawa oleh om Samuel pas khotbah, “Never Too Far Gone” oleh Jordan Feliz.

Dan cara aku pakenya, aku potong potong intro lagu aslinya, lalu aku masukkan ke pad. Jadi deh.
Ini bisa juga dilakukan dengan Novation LaunchPad ataupun drum controller lainnya, mengingat Live 9 punya Sampler (untuk Suite) dan Simpler (untuk Suite dan yang dibawahnya), dan ada drum racknya. Cuma masalahnya, aku gak punya launchpad. :'(

Note : VIP sendiri juga sebenarnya ada protokol sendiri, tapi bisa dimanipulasi lewat MIDI. Dan kalau kita bahas sekarang, artikel ini bakal terlalu ngawur. Jadi lain kali saja ya.

Multi dalam VIP untuk Alesis VX49 bisa muat 8 VST.
Ini list yang aku pakai :

  1. Kontakt 5 -> The Grandeur (jaga jaga)
  2. Kontakt 5 -> Scarbee Vintage Keys -> Scarbee Mark I
  3. Kontakt 5 -> Vintage Organs -> (lupa) :hammers
  4. Kontakt 5 -> Kontakt Factory Library -> (lupa, yang jelas pad sound) :hammers
  5. Kontakt 5 -> Kontakt Factory Library -> Orchestral -> String Section
  6. Kontakt 5 -> Session Strings (bukan Pro) -> Legato
  7. Kontakt 5 -> Session Horns (bukan Pro) -> Performance
  8. Kontakt 5 -> Kontakt Factory Library -> Trumpet

Kontakt 5 adalah sampler Native Insruments. Sampling dalam arti, sound itu direkam, dipotong potong, lalu dijadikan instruments. Bukan dibuat. (Contoh suara yang dibuat adalah lagu EDM.)

Sekarang paham kan kenapa aku perlu SSD?
Mungkin HDD bisa juga, apalagi kalau RAID 0. Tapi :

  1. Sama sekali gak mungkin bikin RAID hardware di laptop. Kecuali kita ngomongin laptop gaming yang gila dan mungkin agak overkill (dan mungkin aku bakal lebih milih KORG Kronos …;)
  2. Seeking time pada SSD jauh lebih kencang dari HDD RAID 0. Kontakt sangat memerlukan ini.
  3. Kontakt dan sampler sampler lain memang rusuh pakai disk.
  4. HP Revolve 810 memang gak ada HDD nya.

dalam Alesis VX49, pada dasarnya switch program aja. Gak ada yang istimewa.
Note : Sustain Pedal BUKAN dicolok disini.

Selanjutnya, kita akan bahas 2 keyboard Yamaha ini.
Ada 2 registry yang SAMA PERSIS di keduanya.

  1. R1 : Concert Strings, R2 : Spiccato, L : HipLead (off)
  2. R1 : Concert Strings, R2 : French Horns, L : HipLead (off)
  3. R1 : Concert Strings, R2 : Symphony Brass, L : HipLead (off)
  4. R1 : Concert Strings, R2 : Tutti, L : HipLead (off)
  5. R1 : Symphony Brass, R2 : Tutti, L : HipLead (off)
  6. R1 : Gothic Vox, R2 : (off), L : HipLead (off)
  7. R1 : Gothic Vox, R2 : Live!Strings, L : HipLead (off)
  8. R1 : (off), R2 : Live!Strings, L : HipLead (off)

    Legend : R1 : Right 1, R2 : Right 2, L : Left.
    Kenapa Left off?

Output dari Channel MIDI di Ableton yang inputnya dari KORG nanoKEY2 disetel ke Yamaha PSR-S910 input, channel 3.
Channel 3 sendiri disetel ke “Left”. Jadi, aku bisa mainkan Right 1 + Right 2, Left dimatikan, dan Left bisa dimainkan dari nanoKEY2. Lebih luas jadinya.
Caranya gimana? Nanti aku jelaskan di posting lain, karena gak ada keyboard yang bisa difoto sekarang. Tapi kalau kamu bandel, baca aja dokumentasi user manual nya keyboardmu. Pasti ada. Makanya buku manual tuh dibaca, jangan jadi bungkus cabe.

Selanjutnya, PSR-S950. Ini keyboardku tersayang. Ok, semuanya keyboard aku kecuali yang putih itu :hammers
Dan, kemudian aku kehabisan port di USB Hub. Jadi gimana?

Untungnya, aku ada kabel MIDI bulat. Istilah kerennya, MIDI 5-pin DIN.
Aku beli di toko musik yang juga menyewakan alat untuk natal kami kemarin. Dan lucunya, kabel ini hampir diretur karena salah stok dan gak ada yang beli. Awalnya ada 2, aku beli satu (dan aku bilang jangan diretur satu lagi), lalu aku beli satu lagi. Lalu salah satu hilang :hammers.

Aku colokkan MIDI out dari keyboardku ke Alesis VX49. Alesis VX49 sendiri mem-forward MIDI inputan dia ke komputer, dan hasilnya selain jadi controller, dia juga bisa jadi MIDI interface.

Sekarang, ini track MIDI pada Ableton Live.

  1. Alesis VX49 USB -> VIP plugin
  2. Maschine
  3. Korg nanoKEY2 -> YAMAHA PSR-s910 Channel 3
  4. YAMAHA PSR-s950 -> VIP plugin
  5. YAMAHA PSR-s950 -> YAMAHA PSR-S910 Channel 1

Lalu, dibuatlah 2 preset MIDI pada keyboard PSR-S950.
Preset 1 : Right 1 ke Channel 1, send Control Change (CC), MIDI Note (Note), sisanya disable. Channel sisanya disable.
Preset 2 : Right 1 ke Channel 2, send Control Change (CC), sisanya disable. Channel sisanya disable.
Kenapa seperti ini?

  1. Aku bisa colokkan sustain ke keyboard PSR-S950, dan saat ditekan, semua keyboard kena sustain.
  2. Ketika aku pakai Preset 1, aku bisa bikin mega unison dengan 12 suara sekaligus (walaupun pada prakteknya, gak sebanyak itu karena memang gak perlu).

Note : Volume control pada setiap plugin di VIP harus dilock, karena setiap kali keyboard YAMAHA ganti registry, dia sering bingung dan malah kena mute. Ini yang aku belum ketemu caranya.

Lalu kenapa keyboard putih di kanan?

Keyboard YAMAHA yang di kanan tidak disetel untuk mengirim MIDI kemanapun. Dia cuma menerima. Sedangkan keyboard YAMAHA di kiri tidak disetel untuk menerima, dia cuma mengirim.
Jadinya, keyboard kanan lebih sering hanya untuk strings (Registry 1).

Lalu, saat om Samuel bawa lagu “Bagi Allah selama lamanya”…
Ada bagian singkup (Sycopation).

Jadi, dengan preset MIDI 1 yang mengirim MIDI note dan CC (sustain) ke semua keyboard, aku bisa setel Registry 1 di keyboard kanan, Registry 5 di keyboard kiri, lalu hidupkan plugin 5, 6, dan 7 di keyboard atas.

Saat bar ketiga setelah singkup, aku bisa mainkan arpeggio strings di keyboard kanan, dan saat sudah sampai octave bawah, tanganku tidak jauh lagi bergerak untuk langsung menghajar keyboard kiri yang menghasilkan unison sound dari semua keyboard yang langsung bunyi.

Pusing? Sama.
Aku menghabiskan 2 botol Fruit Tea Lemon di gereja selama 4 jam cuma mikirin ini.
Still, I’m not that pro. Cuma kebetulan bisa aja.

Kalau ada pertanyaan, komen aja.
Yang mau endorse, mau beliin launchpad, atau apapun, boleh email >> [email protected]

:hammers

Stay strong, stay humble.
God bless us.

Share

Tentang Rinaldo Jonathan

Admin of this site.
Tulisan ini dipublikasikan di Tutorial. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan