Melawan Kebakaran Hutan dengan Membakar


Bagi para penggemar Band Metallica tentu mengenal lagunya yang berjudul “Fight Fire With Fire” atau melawan api dengan api. Ini tentu bertentangan dengan pendapat para motivator atau lainnya yang biasanya berkata “Don’t Fight Fire with Fire” atau jangan lawan api dengan api. Frasa yang mana dari kedua frasa yang bertentangan itu yang anda setujui?

Seperti yang dikutip dari Alam Mengembang jadi Guru, sebenarnya kedua frasa tersebut sama-sama benar dan sama-sama salah. Jangan lawan api dengan api itu benar dalam situasi dan kondisi tertentu, dan Lawan api dengan api juga benar dalam situasi dan kondisi tertentu pula. Jadi semuanya bergantung kepada sikon.

Pemikiran kita yang sering membenarkan frasa jangan lawan api dengan api timbul karena pengalaman yang biasanya kita (atau banyak orang) jumpai sehari-hari. Banyak orang ketika dikatakan “api” yang terbersit di pikiran mereka adalah api lilin atau paling besar adalah api unggun. Ya, api dalam skala dan situasi seperti ini biasanya kita lawan dengan air, bukan dengan api, karena jika dilawan dengan api, tentu malah akan bertambah besar api tersebut, begitu kata pikiran kebanyakan orang.

Namun ketika kita dihadapkan dengan api yang sangat besar seperti kebakaran hutan besar-besaran, kita harus berpikir lebih jauh daripada sekedar melawannya dengan air. Yang namanya API, pasti membutuhkan oksigen dan bahan bakar, seperti daun dan vegetasi, untuk terus mengamuk. Nah, dengan menghilangkan keduanya atau salah satunya, maka reaksi kimia yang menghasilkan api tersebut tidak akan berlanjut.

 


Carbon tetrachloride (CCl4) juga dapat cepat memadamkan api dengan menggunakan/menghabiskan semua oksigen lokal yang tersedia

 

Misalnya pada kebakaran sumur minyak, para petugas pemadam kebakaran biasanya menghilangkan oksigen dari sumur tersebut dengan meledakkan dinamit. Ledakan itu memakan semua oksigen lokal, dan akibatnya memadamkan api. Ketika seluruh hutan terbakar, petugas pemadam kebakaran kadang juga menghapus bahan bakar – yaitu menghapus semak-semak dengan membakarnya! Tentu pembakaran ini harus pembakaran yang terkontrol.

 


Petugas pemadam menggunakan drip torch untuk memulai Backfire (inilah proses menggunakan api untuk melawan kebakaran)

 

Anda dapat membantu mencegah penyebaran kebakaran hutan dengan menghilangkan bahan-bahan yang mudah terbakar berada di sekitar, seperti semak, daun dan sampah kering. Para pengelola peternakan, hutan atau padang rumput, sering membayar ahli untuk melakukan pembakaran terkontrol. Dalam skenario ini, pengelola membakar ‘bahan bakar’ seperti semak kering di suatu lokasi yang berpotensi memberi makan api di kemudian hari, di bawah kondisi yang terkendali. Pembakaran terkendali ini menciptakan pencegahan perluasan kebakaran, atau gap, pada lokasi yang terdapat bahan yang mudah terbakar sehingga mencegah penyebaran kebakaran hutan. Proses ini sering disebut sebagai Backfire.

Nah, seandainya kita terkepung di sebuah kebakaran semak atau hutan, kita bisa menyelamatkan diri kita dengan analogi yang sama dengan backfire. Yaitu kita menghapus semua ‘bahan bakar’ atau vegetasi yang ada disekeliling kita dengan membakarnya. Ketika api utama atau api kebakaran mencapai api yang kita buat maka api utama tidak bisa mencapai kita karena bahan bakar untuk mencapai kita telah terbakar oleh api kita. Teknik penyelamatan diri seperti ini disebut Escape Fire.

Teknik ini telah dijelaskan dalam novelnya James Fenimore Cooper 1827 yang berjudul “The Prairie” dan menjadi terkenal setelah Kebakaran Hutan Mann Gulch. Pada kebakaran ini, salah seorang PMK Wagner Dodge berhasil mempraktikkannya. Dia membersihkan area yang cukup besar baginya untuk lolos tanpa cedera saat api utama berjarak kurang dari satu menit dari mereka.

 

 

Kebakaran Mann Gulch adalah kebakaran yang dilaporkan pada tanggal 5 Agustus 1949 di sebuah ngarai yang terletak di sepanjang Sungai Missouri di atas Gates of the Mountains Wilderness, Helena National Forest, di negara bagian Montana di Amerika Serikat. Sebuah tim dari 15 orang Smokejumpers diterjunkan ke daerah tersebut pada sore hari 5 Agustus 1949 untuk melawan api, ditambah dengan seorang mantan Smokejumper yang bekerja sebagai pemadam kebakaran di kamp di dekatnya yang lebih dahulu berada disana.

Saat tim mendekati api untuk memulai ‘pertempuran’ itu, angin kencang menyebabkan api secara tak terduga tiba-tiba berkembang, menghalangi rute mereka dan memaksa mereka naik. Selama beberapa menit berikutnya, sebuah “blow-up” atau ‘ledakan’ api yang menyelimuti 1200 hektar daerah itu dalam sepuluh menit, menewaskan 13 petugas pemadam kebakaran, termasuk 12 orang dari Smokejumpers. Tiga dari Smokejumpers selamat trmasuk Wagner Dodge yang mempraktekkan teknik Escape fire. Api terus membakar wilayah itu hingga lima hari sebelum dapat dipadamkan.

 

Gambaran Kronologi Insiden Kebakaran Mann Gulch

 

 

 

 

 

Teknik Escape Fire mudah dilakukan di padang rumput tetapi akan sulit dilakukan dalam kebakaran hutan dengan pohon-pohon besar, karena api yang kita buat biasanya akan terlalu lambat untuk mengkonsumsi kayu atau pohon besar sebelum api utama tiba.

Jangan anggap remeh api yang mengamuk liar, ditambah dengan angin mereka akan bergerak cukup cepat. Lihatlah video kebakaran rumput di Texas dibawah ini. Video ini bukan dipercepat atau Timelapse, dan terlihat bagaimana cepatnya api bergerak

 

Share

Tentang Rinaldo Jonathan

Admin of this site.
Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan