Tugas Agama – Aliran Sesat Agama Kristen


Ajaran sesat dalam Agama Kristen

Penggunaan istilah ajaran sesat dalam konteks kekristenan sudah jarang digunakan saat ini, dengan beberapa perkecualian: misalnya Rudolf Bultmann dan perdebatan tentang penahbisan imam wanita dan para imam gay. Pandangan populer menurunkan “bidah” kepada Abad Pertengahan, saat puncak kekuasaan gereja di Eropa, tapi kasus seorang sarjana dan humanis Giordano Bruno bukanlah eksekusi terakhir untuk bidah. Bidaah mengingatkan akan sebuah hukuman resmi dalam negara-negara Katolik Roma hingga akhir abad 18. Di Spanyol, kasus bidah telah didakwa dan dihukum sepanjang Kontra Pencerahan setelah Era Napoleon. Penyesatan di dalam gereja sebenarnya memiliki usia yang sama tuanya dengan usia gereja itu sendiri. Sejak zaman Paulus dan Yohanes, setelah Kristus naik ke surga, berbagai penyesat telah bermunculan. Gereja mula-mula yang muda itu telah diperhadapkan dengan berbagai pengaruh ajaran yang menyesatkan, dan itu akan terus berlangsung sampai akhir zaman nanti. Abad-abad berikutnya pun gereja menghadapi berbagai aliran seperti: MarsionismeMontanismeNovatianisDonatis, dan sebagainya. Demikian juga seterusnya. Jadi, gereja tidak perlu terkejut dengan munculnya berbagai ajaran dan aliran yang membingungkan dan menyesatkan, namun justru harus waspada, dan memperkokoh iman, penyelidikan kebenaran yang alkitabiah dan mempererat hubungan dengan Tuhan, Sang Kepala Gereja.

Kriteria yang Salah

Sebelum melihat beberapa titik tolak yang merupakan dasar untuk mengukur sejauh mana suatu ajaran itu bernilai sesat, orang Kristen kadang-kadang memiliki miskonsepsi, antara lain:

  1. Jemaat besar selalu benar, kelompok kecil adalah sesat. Kriteria ini salah, sepanjang perjalanan sejarah gereja, sering terjadi bahwa jumlah aliran yang tidak alkitabiah lebih besar dari pada gereja Tuhan. Di Chili, pada abad lalu tercatat aliran-aliran bidat lebih banyak pengikutnya daripada anggota gereja resmi. Dan, biasanya justru aliran-aliran yang mengandung kesesatan itu lebih banyak diminati orang ketimbang gereja resmi yang setia pada kebenaran dan kekudusan.
  2. Gereja Negara adalah benar, jemaat pecahan sesat. Kriteria ini pun salah. Di Eropa tercatat bahwa waktu gereja menyatu dengan negara, justru membawa berbagai penyimpangan. Di Indonesia setelah zaman kemerdekaan memang tidak terjadi kesatuan antara kekuasaan gereja dan negara.
  3. Gereja yang benar adalah yang menjangkau golongan sosial ekonomi menengah ke atas. Kriteria ini juga salah. Memang, berbagai aliran baru sering lebih dapat menjangkau masyarakat rendah. Sedangkan kalangan gereja besar banyak anggota dari kalangan menengah ke atas. Namun, berbagai catatan sejarah mencatat bahwa aliran-aliran tertentu justru menjangkau kelompok menengah ke atas, seperti kalangan bisnis, pejabat dan sebagainya. Bidat Christian ScienceChildren of God, dsb. jelas mempunyai pengikut kalangan menengah ke atas.

Penyebab timbulnya

Beberapa penyebab ajaran-ajaran sesat di dalam gereja, antara lain:

  • Sebagai reaksi terhadap gereja resmi (aliran utama). Para pencetus dan penganut ajaran-ajaran yang kemudian orang Kristen sebut sesat, umumnya diawali dengan kekecewaan terhadap gereja-gereja resmi (gereja arus utama) yang semakin melembaga, semakin baku dan kaku, yang biasanya diikuti dengan ajarannya yang cenderung menekankan intelektualitas. Para penganut aliran ini ingin kembali pada kehangatan persaudaraan, pengalaman rohani, dan persekutuan langsung dengan Allah, kesederhanaan pemahaman atas Alkitab, serta penerapan ajaran Alkitab yang langsung aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
  • Penekanan terhadap doktrin tertentu. Alkitab sangat kaya dengan berbagai ajaran untuk pedoman iman dan kehidupan ini. Para penganut ajaran sesat biasanya memberi tekanan khusus pada satu atau dua ajaran Alkitab, lalu diinterpretasikan sedemikian rupa dan ditambah dengan ajaran-ajaran pemimpinnya sehingga menjadi satu doktrin utama dalam aliran itu.
  • Pengaruh ajaran yang tidak Alkitabiah (pola pikir di luar Alkitab/pemahaman Alkitab yang salah). Bersamaan dengan perkembangan ilmu pemikiran (sosial, sains, komunikasi, dll. yang sudah diawali pada abad 17 dan 18) berbagai fenomena pemikiran serta pemahaman saling bersentuhan dan memengaruhi. Dalam abad ke-20 yang baru lalu ini, misalnya, munculnya gerakan karismatik (dalam konotasi ekses negatifnya) bertemu dengan ajaran kemakmuran dan hidup sukses (bukan teologi sukses, sebab ajaran tersebut bukan teologi), serta pola bisnis “pasar bebas” menghasilkan menjamurnya penyelenggaraan kebaktian-kebaktian di kota-kota besar. Seperti halnya pola bisnis pasar bebas, mereka tanpa risih membuka kebaktian di samping gereja yang sudah ada. Bahkan, ada satu gedung dengan dua merek gereja yang satu sinode. Maka, yang berlaku adalah hukum rimba: yang kuat yang menang (kuat modal, kuat suara).

Ajaran-ajaran yang dianggap sesat

Berikut ajaran-ajaran yang dianggap sesat yang saat ini pengikutnya sudah tidak ada/hampir tidak ada dan pendiri ajaran tersbut:

Selain itu ada pula ajaran-ajaran yang oleh sebagian besar gereja dianggap kontroversial kalau bukan sesat. ‘Gereja-gereja’ ini saat ini memiliki jumlah pengikut yang tidak sedikit:

Gnostisisme

Gnostisisme (bahasa Yunani: γνῶσις gnōsispengetahuan) merujuk pada bermacam-macam gerakan keagamaan yang beraliran sinkretismepada zaman dahulu kala. Gerakan ini mencampurkan pelbagai ajaran agama, yang biasanya pada intinya mengajarkan bahwa manusia pada dasarnya adalah jiwa yang terperangkap di dalam alam semesta yang diciptakan oleh tuhan yang tidak sempurna. Secara umum dapat dikatakan Gnostisisme adalah agama dualistik, yang dipengaruhi dan memengaruhi filosofi YunaniYudaisme, dan Kekristenan. Istilah gnōsis merujuk pada suatu pengetahuan esoteris yang telah dipaparkan. Dari sana manusia melalui unsur-unsur rohaninya diingatkan kembali akan asal-muasal mereka dari Tuhan yang superior. Yesus Kristus dipandang oleh sebagian sekte Gnostis sebagai perwujudan dari makhluk ilahi yang menjadi manusia untuk membawa gnōsis ke bumi[1]. Pada mulanya Gnostisisme dianggap sebagai cabang aliran sesat dari Kekristenan, namun sekte Gnostis telah ada sejak sebelum kelahiran Yesus[2][3]. Keberadaan kaum Gnostik sejak Abad Pertengahan semakin berkurang dikarenakan pengikutnya memeluk Islam atau akibat dariPerang Salib Albigensian (12091229). Gagasan Gnostis kembali muncul seiring dengan bertumbuhnya gerakan mistis esoteris pada akhir abad ke-19 dan abad ke-20 di Eropa dan Amerika Utara.

Marsionisme

Marsionisme adalah ajaran yang dianggap sesat oleh Gereja-gereja resmi di Abad kedua, didirikan oleh seseorang yang bernama Marsionatau Marcion.[1][2] Ajarannya yang paling ditentang oleh banyak tokoh pada waktu itu adalah mengenai pemisahan Allah Perjanjian Lama dan Allah Perjanjian Baru.[1] Allah Perjanjian Lama, menurutnya Allah yang adil, kurang sempurna, kejam dan tidak berpengasihan, gemar menghukum dengan Hukum Taurat yang diturunkan kepada Musa.[1] Ajarannya lebih mirip pada Teologi Kristen tentang Gnostisisme.[1] Baginya, hukum-hukum yang terdapat dalam Perjanjian Lama terlalu berat untuk dilaksanakan manusia.[1] Dialah Allah yang berkata, “Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu; gigi ganti gigi, mata ganti mata, darah ganti darah.”.[1] Sedangkan Allah Perjanjian Baru adalah Allah yang baik, mahamurah, penyayang yang tampak dalam diri Yesus.[1]Allah Perjanjian Baru ini diperkenalkan oleh Yesus Kristus, yang mengutus-Nya untuk menyelamatkan manusia dan menebus dosa-dosanya dengan membawa Injil tentang cinta kasih kepada manusia.[1]

 

Montanisme

Montanisme adalah sebuah gerakan sektarian Kristen perdana pada pertengahan abad ke-2 Masehi, yang dinamai seturut pendirinya Montanus. Gerakan ini berkembang umumnya di daerah Frigia dan sekitarnya; di sini sebelumnya pengikutnya disebut Katafrigia. Namun gerakan ini merebak cepat ke wilayah-wilayah lain di Kekaisaran Romawi, dan pada suatu masa sebelum agama Kristen ditolerir atau dianggap legal. Meskipun Gereja Kristen arus utama menang atas Montanisme dalam beberapa generasi, dan mencapnya sebagai sebuah ajaran sesat, sekte ini bertahan di beberapa tempat terisolir hingga abad ke-8. Sebagian orang membuat paralel antara Montanisme dan Pentakostalisme (yang disebut sebagian orang Neo-Montanisme). Montanis yang paling terkenal jelas adalah Tertulianus, yang merupakan penulis gereja Latin paling terkemuka sebelum ia beralih ke Montanisme. Penganut paham Montanisme disebut dengan Montanis  

Arianisme

Arianisme adalah sebuah pandangan kristologis yang dianut oleh para pengikut Arius, seorang presbiter Kristen yang hidup dan mengajar diAlexandria, Mesir, pada awal abad ke-4. Arius mengajarkan bahwa berbeda dengan Allah BapaAllah Anak tidak sama-sama kekal dengan Sang Bapa. Ia mengajarkan bahwa Yesus sebelum menjelma adalah makhluk ilahi, namun ia diciptakan oleh Sang Bapa pada suatu saat tertentu — dan oleh karenanya statusnya lebih rendah daripada Sang Bapa. Sebelum penciptaan-Nya itu, Sang Putra tidak ada. Dalam bahasa yang lebih sederhana, kadang-kadang dikatakan bahwa kaum Arian percaya bahwa Yesus, dalam konteks ini, adalah suatu “makhluk”. Kata yang digunakan dalam pengertian aslinya adalah “makhluk ciptaan.” Konflik antara Arianisme dan keyakinan Trinitarian adalah konfrontasi doktriner besar pertama dalam Gereja setelah agama Kristen dilegalisasikan oleh Kaisar Konstantin I. Kontroversi tentang Arianisme ini meluas hingga sebagian besar dari abad ke-4 dan melibatkan sebagian terbesar anggota gereja, orang-orang percaya yang sederhana dan para biarawan, serta para uskup dan kaisar. Sementara Arianisme memang selama beberapa dasawarsa mendominasi di kalangan keluarga Kaisar, kaum bangsawan Kekaisaran dan para rohaniwan yang lebih tinggi kedudukannya, pada akhirnya Trinitarianismelah yang menang secara teologis dan politik pada akhir abad ke-4. dan sejak saat itu telah menjadi doktrin yang praktis tidak tertandingi di semua cabang utama Gereja Timur dan Barat. Arianisme, yang diajarkan oleh misionaris Arian Ulfilas kepada suku-suku Jermanik, memang bertahan selama beberapa abad di antara sejumlah suku Jermanik di Eropa barat, khususnya suku-suku Goth dan Longobard tetapi sejak itu tidak memainkan peranan teologis yang penting lagi.

Nestorianisme

Nestorianisme adalah doktrin (ajaran) bahwa Yesus eksis sebagai dua pribadi, yakni sebagai manusia Yesus dan sebagai Putera Allah, atau Logos, bukannya sebagai satu pribadi yang manunggal. Doktrin ini dikaitkan dengan Nestorius (c. 386–c. 451), Patriark Konstantinopel. Pandangan mengenai Kristus ini dikutuk dalam Konsili Efesus tahun 431, dan konflik mengenai pandangan ini mengakibatkan Skisma Nestorian, yang memisahkan Gereja Timur Asiria dari Gereja Byzantium. Gereja Timur Asiria menolak untuk menarik dukungan bagi Nestorius dan menolak untuk menyebutnya seorang bidaah, sehingga Gereja ini selanjutnya disebut “Gereja Nestorian” oleh Gereja Barat, untuk membedakannya dari Gereja-Gereja Timur kuno lainnya. Meskipun demikian, Gereja Timur Asiria sesungguhnya tidak menganggap doktrin Gerejanya adalah Nestorian, akan tetapi mengajarkan pandangan dari Babai Agung, bahwa Kristus memiliki dua qnome (esensi) yang tidak membaur dan manunggal abadi dalam satu parsopa (personalitas). Menurut beberapa interpretasi, asal mula keyakinan ini sebagian besar bersifat historis dan linguistik: sebagai contoh, Bahasa Yunani memiliki dua kata untuk ‘pribadi’, yang tidak diterjemahkan dengan tepat ke dalam Bahasa Syria, dan makna dari istilah-istilah tersebut bahkan tidak ditetapkan pada masa hidup Nestorius. Nestorianisme muncul dalam Gereja pada abad ke-5 karena adanya upaya untuk secara rasional menjelaskan dan memahamiinkarnasi dari Logos Illahi, Pribadi Kedua dari Trinitas Maha Kudus, sebagai manusia Yesus Kristus. Nestorianisme mengajarkan bahwa esensi kemanusiaan dan esensi keillahian Kristus itu terpisah dan oleh karena itu ada dua pribadi, yakni pribadi manusia Yesus Kristus, dan pribadi logos yang illahi, yang berdiam dalam manusia Yesus Kristus itu. Sebagai konsekuensinya, kaum Nestorian menolak adanya istilah-istilah seperti “Allah menderita ” atau “Allah telah disalibkan”, karena kemanusiaan Yesus Kristus yang menderita itu terpisah dari keillahiannya. Demikian pula mereka menolak istilah Theotokos (Yang Melahirkan Allah/Bunda Allah) sebagai gelar Maria, sebaliknya mereka mengajukan gelar Kristotokos (Yang Melahirkan Kristus/Bunda Kristus), karena dalam pandangan mereka Maria hanya melahirkan pribadi manusia Yesus, bukan pribadi illahinya.

Pelagianisme

Pelagianisme adalah faham yang meyakini bahwa dosa asal tidak merusak hakikat manusia (yakni hakikat ilahi, karena manusia diciptakan dari Allah), dan bahwa dengan kehendaknya yang fana manusia masih sanggup untuk memilih yang baik atau yang buruk tanpa pertolongan ilahi. Dengan demikian, dosa Adam “memberikan teladan yang buruk” bagi keturunannya, namun tindakan-tindakan Adam tidak mengandung konsekuensi-konsekuensi lain yang dihubung-hubungkan dengan dosa asal. Dari sudut pandang Pelagianisme, peran Yesus adalah “memberikan suatu teladan yang baik” bagi seluruh umat manusia (dengan demikian adalah kebalikan dari teladan buruk Adam). Singkatnya, manusia sepenuhnya memegang kendali, dan oleh karena itu sepenuhnya bertanggung jawab, atas keselamatannya sendiri selain itu juga sepenuhnya bertanggung jawab atas tiap dosa yang diperbuatnya (“sepenuhnya bertanggung jawab atas tiap dosa” ditekankan baik oleh pendukung maupun penentang Pelagianisme). Menurut Pelagianisme, oleh karena manusia tidak lagi memerlukan rahmat Allah di luar kreasi kehendaknya [1] maka Sakramen Pembaptisan tidaklah mengandung kualitas redemptif (pengampunan dosa) sebagaimana yang diajarkan oleh kaum Kristiani yang ortodoks. [2] Pelagianisme ditentang oleh Agustinus dari Hippo, yang mengajarkan bahwa keselamatan seseorang itu terjadi semata-mata melalui rahmat Allah, dan hanya oleh kehendak Allah untuk menganugerahkannya bagi siapapun yang dipilih-Nya, tanpa perlu partisipasi dari pihak yang bersangkutan. Ajaran Agustinus mengakibatkan dikutuknya Pelagianisme sebagai suatu ajaran sesat dalam beberapa sinode lokal. Pelagianisme dikutuk pada tahun 416 dan 418 dalam konsili-konsili Kartago[3] Pengutukan-pengutukan ini secara ringkas disahkan dalam Konsili Efesus pada tahun 431, meskipun bukan tindakan utama dari konsili itu. Pelagianisme sebagai suatu gerakan bidaah yang terstruktur lenyap selepas abad ke-6 namun gagasan-gagasan pokoknya terus-menerus menimbulkan perdebatan. [4] Thomas Bradwardine (1290 – 26 Agustus 1349), Uskup Agung Canterbury, dalam De causa Dei contra Pelagium et de virtute causarum menolak faham Pelagian pada abad ke-14, dan Gabriel Biel melakukan tindakan yang serupa pada abad ke-15. [5]

Maniisme

Maniisme atau Manikheisme (dalam Persia Modern آیین مانی Āyin e MāniTionghoapinyin Jiào) adalah sebuah aliran kepercayaandualistik yang didasarkan pada ajaran-ajaran Mani.[1] Tokoh utama aliran ini adalah Manichaeus, ia dilahirkan di desa Mardinu, di gurun Nahr Kuta, Babilonia Selatan pada 14 April 216.[2] Gnostik terbesar Iran, bermula di Persia Sassaniyah. Meskipun banyak manuskrip asli dari nabi pendiri,Mani (Syriac, ܡܐܢܝ, c. AD 210–276) telah hilang, sejumlah terjemahan dan teks fragmen selamat. Maniisme muncul antara abad ke-3 dan ke-7, dan pada masa kejayaannya merupakan salah satu agama yang tersebar paling luas di dunia. Gereja dan skriptur Mani ada sejauh timur jauh diTiongkok dan barat jauh di Kekaisaran Romawi. Maniisme hilang begitu saja sebelum abad ke-16 di selatan Tiongkok.

Gereja Mormon

Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir adalah gereja yang didirikan oleh Joseph Smith pada 6 April 1830.[1]Gereja ini seringkali disingkat menjadi OSZA yang dikenal juga dengan nama gereja Mormon.[1] Dalam bahasa Inggris, namanya adalah The Church of Jesus Christ of Latter-Day Saints dan disingkat LDS. [1] Nama Mormon yang diberikan kepada kelompok ini berkaitan dengan Kitab Suci mereka yang kedua di samping Alkitab, yaitu Kitab Mormon (The Book of Mormon).[1] Gereja ini merupakan salah satu gereja yang sangat cepat berkembang pada abad ke-20 dan ke-21.[1] Pengaruh mereka sangat terasa diAmerika Serikat, khususnya dalam politik pemerintahan negara.[1] Saat ini ada 5 orang senator AS yang berlatar belakang Mormon, yaitu Orrin Hatch dan Bob Bennett (Utah, R), Mike Crapo (Idaho, R), Harry Reid (Nevada, D), dan Gordon Smith (Oregon, R).[1] Dunia pendidikan dan kebudayaan AS juga cukup banyak dipengaruhi oleh orang-orang Mormon, misalnya Stephen Covey yang terkenal dengan bukunya 7 Habits of Highly Effective People dan keluarga Osmond yang terkenal melalui Donny Osmond dan Mary Osmond.[1] Paduan suara Mormon Tabernacle dapat dikatakan sebagai salah satu paduan suara terbaik di dunia dan banyak sekali pengagumnya. [1] Latar Belakang dan Konteks Kemunculan Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir di Amerika Memasuki abad ke-19, kekristenan di Amerika terutama bercorak Protestan.[1] Abad ke-19 juga merupakan masa ekspansi geografis dari bangsa Amerika yang baru terbentuk itu, bersamaan dengan ekspansi gereja-gereja mereka dimana ekpansi ke arah barat dan selatan diintensifkan dan hal ini berhasil dilakukan.[1] Keberhasilan ini melahirkan optimisme besar yang biasanya diberi cap keagamaan bahwa mereka memahami diri sebagai bangsa pilihan Allah dan memandang benua Amerika sebagai tanah perjanjian atau Yerusalem baru. [1] Kebangkitan semangat nasionalisme ini dimateraikan dengan semboyan religius bahwa Kerajaan seribu tahun (Kerajaan Allah) sudah berlangsung di Amerika dan Yesus akan datang untuk kedua kalinya pada akhir masa seribu tahun itu. [1] Keadaan ini pun membuat gereja Mormon muncul pada suasana dan iklim keagaamaan di wilayah timur-laut AS. [1]Kebangunan Besar gelombang pertama yang dimulai pada tahun 1770-an ini berlanjut dengan serangkaian kebangunan rohani sehingga pada waktu itu semangat dan mutu kehidupan rohani dapat dikatakan sangat merosot.[1]. Revolusi dan perang kemerdekaan yang berpuncak pada tahun 1770-an dan 80-an, namun berlanjut hingga tahun 1810, telah mengakibatkan kehidupan beragama berada pada titik terendah di sepanjang sejarah bangsa itu.[1] Pada masa itu tidak dianggap aneh atau saling bertentangan bila masyarakat di satu pihak menganut ajaran gereja dan di pihak lain menganut ilmu magic dan okultisme. [1] Sebagai respons terhadap keadaan ini, sejak 1820-an berlangsunglah Kebangunan besar Gelombang kedua, dengan tokoh-tokoh antara lain: Charles G. Finey dan Alexander Campbell.[1] Semangat menginjili ke dalam dan ke luar negeri pun dilakukan. [1] Para pengkhotbah dari bermacam-macam gereja atau aliran pun berlomba-lomba untuk mentobatkan atau mentobatkan kembali masyarakat, termasuk dengan cara membanjiri mereka dengan Alkitab, traktat dan majalah. [1] Hal ini kemudian menimbulkan kebingungan bagi orang-orang yang ingin diinjili, termasuk Joseph Smith[1]

Saksi-Saksi Yehuwa

Saksi-Saksi Yehuwa adalah suatu denominasi Kristenmilenarianrestorasionis yang dahulu bernama Siswa-Siswa Alkitab hingga pada tahun 1931. Agama ini diorganisasi secara internasional, lebih dikenal di dunia Barat sebagai Jehovah’s Witnesses atau Jehovas Zeugen, yang mencoba mewujudkan pemulihan dari gerakan Kekristenan abad pertama yang dilakukan oleh para pengikut Yesus Kristus. Saksi-Saksi Yehuwa sendiri bukanlah suatu sekte, mereka tidak pernah memisahkan diri dari gereja atau kelompok besar manapun.[1] Wewenang tertinggi kehidupan mereka berdasarkan hukum-hukum dan prinsip-prinsip dari Kitab Suci atau Alkitab. Mereka menolak doktrin Tri Tunggal karena tidak berdasarkan Firman Allah, Alkitab.

Gereja Scientology

Situs web www.scientology.org

Scientology adalah sekumpulan ajaran dan teknik terkait yang dikembangkan oleh pengarang AmerikaL. Ron Hubbard selama sekitar 30 tahun, dimulai pada 1952 sebagai suatu filosofi pertolongan diri-sendiri, perkembangan dari sistem pertolongan diri-sendirinya yang lebih awal, Dianetika. Ajaran ini mengklaim menawarkan suatu metodologi yang eksak (pasti) untuk menolong manusia mencapai kesadaran keberadaan rohaninya melintasi beberapa masa hidupnya dan, pada saat yang bersamaan, untuk menjadi lebih efektif di dunia fisik. Nama “Scientology” juga digunakan untuk merujuk kepada Gereja Scientology yang kontroversial, organisasi terbesar yang mempromosikan praktik Scientology. Gereja ini sendiri adalah bagian dari jaringan korporasi terkait yang mengklaim pemilikan dan wewenang tunggal untuk menyebarkan Dianetika dan Scientology. Scientology menyatakan bahwa tujuannya adalah “merehabilitasi” thetan (kira-kira setara dengan jiwa) untuk memperoleh kembali keadaannya semula berupa “kebebasan total.” Para jurubicara gereja ini dan praktisinya memberikan kesaksian bahwa ajaran-ajaran Hubbard (yang disebut “Teknologi” atau “Tek” dalam terminologi Scientology) telah menyelamatkan mereka dari begitu banyak masalah dan memampukan mereka untuk lebih menyadari potensi tertinggi mereka dalam bisnis maupun kehidupan pribadi mereka.[3][4] Namun, para pengamat luar – termasuk wartawan, anggota parlemen, lembaga-lembaga pemerintahan nasional dari sejumlah negara – telah mencapai kesimpulan tentang Scientology yang sangat bertentangan dengan penggambaran diri Gereja ini. Di antaranya termasuk tuduhan-tuduhan bahwa Gereja ini adalah sebuah usaha komersial tidak jujur, yang mengganggu para kritikusnya dan secara brutal mengeksploitir anggota-anggotanya.[5][6] Meskipun beberapa pakar dan banyak pemerintahan dunia [7] menerima Scientology sebagai sebuah agama yang bonafid,[8][9]Scientology juga telah digambarkan sebagai pseudo agama, sebuah ajaran sesat[10] atau sebuah perusahaan transnasional.[9]

Children of God

Children of God (COG) yang belakangan dikenal sebagai Family of Loves (Keluarga Kasih), Keluarga, dan kini Keluarga Internasional adalah sebuah gerakan agama baruyang dimulai pada 1968 di Huntington BeachCaliforniaAmerika Serikat. Ini adalah bagian dari Jesus Movement (Gerakan Yesus) pada akhir tahun 1960-an. Sebagian besar anggotanya berasal dari gerakan hippie. Gerakan ini adalah salah satu dari banyak gerakan lainnya yang membangkitkan kontroversi sekte pada tahun 1970-an dan 1980-an di Amerika Serikat dan Eropa dan memicu kelompok anti-sekte terorganisasi pertama (FREECOG). Sementara gerakan ini bertumbuh dan meluas di seluruh dunia, demikian pula pesannya—keselamatanMilenarianismerevolusi rohani melawan dunia luar yang mereka sebut sebagai “Sistem”—dan kontroversi yang muncul sebagai akibatnya. Pada 1974, gerakan ini mulai bereksperimen dengan metode penginjilan yang disebut Menjala dengan Lirikan(Flirty Fishing)—dengan menggunakan seks untuk memperlihatkan kasih Allah dan memenangkan anggota baru dan mendapatkan dukungan. Praktik ini dihentikan pada 1987. Pendiri dan pemimpin mereka yang diakui sebagai nabiDavid Berg, berkomunikasi dengan para pengikutnya melalui Surat-surat Mo (Mo Letters)—yaitu surat-surat yang berisikan petunjuk dan nasihat tentang berbagai topik rohani dan praktis—hingga ia meninggal dunia pada akhir 1994. Setelah kematiannya, jandanya, Karen Zerby menjadi pemimpin Keluarga. Kehidupan seksual yang bebas dari kelompok ini, penerbitan dan distribusi tulisan-tulisan, foto-foto dan video mereka yang menganjurkan dan mendokumentasikan kehidupan seksual antara orang dewasa dan anak-anak, serta seksualisasi anak-anak, menyebabkan munculnya berbagai laporan tentang hubungan seksual antara orang dewasa dan anak-anak. Sejumlah penyidikan hukum dan akademik pada tahun 1990-an menyimpulkan “Keluarga” sebagai sebuah lingkungan yang aman bagi anak-anak, namun penyidikan-penyidikan itupun juga menyoroti masalah-masalah pada masa lampaunya. Pemimpin “Keluarga”, yang mengakui bahwa hanya beberapa anak yang mengalami pelecehan sejak 1978 hingga 1985, membuat kebijakan yang melarang hukuman yang berlebihan ataupun kontak seksual apapun antara orang dewasa dan anak-anak kecil. Mereka yang terbukti melecehkan anak-anak setelah Desember 1988 dikucilkan dari keanggotaan “Keluarga”. “Keluarga” mewajibkan orang-orang yang memutuskan untuk melaporkan pelecehan anak-anak kepada pihak penegak hukum ataupun melakukan tuntutan hukum terhadap pihak yang dituduh melakukan pelecehan untuk meninggalkan kelompok ini sama sekali.Atau, apabila si tersangka pelaku pelecehan itu telah dikucilkan karena melakukan pelecehan kepada anak-anak, akan diturunkan status keanggotaannya hingga masalahnya diselesaikan. Pada Januari 2005 seorang bekas anggota “Keluarga” dibunuh oleh Ricky Rodriguez, anak angkat pemimpin kelompok ini, yang telah meninggalkan kelompok ini beberapa tahun sebelumnya. Rodriguez kemudian melakukan bunuh diri. Hal ini mengejutkan anggota-anggota “Keluarga” maupun mereka yang pernah menjadi anggotanya, dan menimbulkan perhatian media yang cukup besar.

Christian Science

Situs web http://christianscience.com/indonesian

Nama resmi Gereja ini dalam bahasa Indonesia adalah Gereja Kristus, Ahli Ilmu Pengetahuan (Inggris: The Church of Christ, Scientist). Berapa jumlah pengikutnya, tidak ada yang dapat memastikan, kecuali Gereja Induk mereka di BostonMassachusetts. Salah satu sumber memperkirakan Gereja ini mempunyai 2300 cabang dan 1600 di antaranya berada di Amerika Serikat. Sumber-sumber yang tidak resmi memperkirakan jumlah pemeluknya antara 150.000 sampai 400.000 orang. Gereja ini berdiri pada tahun 1879, dan antara tahun 1890 sampai 1906, jumlah pengikutnya berkembang pesat dari 8.724 orang menjadi 55.000 orang. Pada tahun 1936, sebuah sensus di AS mencatat jumlah pemeluknya mencapai 268.915 orang. Namun pada tahun 1992, seorang peneliti, William Alnor melaporkan dalam Christian Research Journal bahwa keanggotaan Gereja ini telah merosot dari 268.000 pada tahun 1930-an menjadi 150.000 anggota pada 1992. Gereja ini mempunyai sebuah suratkabar yang sangat dihormati laporan dan analisisnya, yakni Christian Science Monitor. Pada tahun 1992 jumlah terbitannya pun merosot menjadi 100.000 eksemplar dari 240.000 eksemplar pada tahun 1960-an.

Latar belakang

Gereja Kristus, Ahli Ilmu Pengetahuan didirikan oleh Ny. Mary Baker Eddy (16 Juli 1821 – 3 Desember 1910), yang sejak kecil sakit-sakitan. Pada usia 40-an tahun, Ny. Eddy berjumpa dengan Phineas P. Quimby yang melakukan banyak percobaan dengan penyembuhan alamiah melalui kekuatan pikiran. Ny. Eddy yang saat itu mengalami penderitaan tulang belakang, meminta pertolongan Quimby. Ia begitu terkesan oleh “kesembuhannya” sehingga ia yakin bahwa Quimby telah menemukan metode penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus. Pada bulan Februari 1866, sebulan setelah kematian Quimby, Ny. Eddy tergelincir di kaki lima yang licin karena es yang mencair, sehingga punggungnya luka parah. Beberapa hari setelah kecelakaan itu, Ny. Eddy membaca kisah penyembuhan orang lumpuh di dalam Injil Matius, dan ia memperoleh ilham bahwa hanya Allah sajalah, yakni Pikiran Ilahi, yang mempunyai kuasa untuk menyembuhkan punggungnya. Ny. Eddy langsung sembuh dan ia pun membagikan penemuannya kepada orang lain. Ny. Eddy percaya bahwa penyembuhan itu terjadi karena ia menyadari bahwa materi, dan itu termasuk penyakit, sesungguhnya tidak ada. Karena penyakit tidak ada, maka obat-obatan yang juga termasuk materi, tidak akan berguna untuk menyembuhkannya. Sebaliknya, penyakit hanya dapat dikalahkan dengan menggunakan kuasa pikiran. Diilhami oleh keyakinannya bahwa penyembuhannya itu terjadi sebagai akibat dari kesadaran rohaninya terhadap Allah, Ny. Eddy mulai bekerja sebagai penyembuh ilahi. Ny. Eddy mulai menata prinsip-prinsip pemikiranannya dan menerbitkannya pada tahun 1875 dengan judul Science and Health, yang kemudian direvisinya menjadi [Science and Health with Key to Scriptures]. Pada tahun 1879 ia mempunyai cukup banyak pengikut untuk mendirikan Gereja Kristus, Ahli Ilmu Pengetahuan, di Boston. Untuk memperluas pelayanannya, pada tahun 1881 Ny. Eddy mendirikan Massachusetts Metaphysical College, dan National Christian Scientist Association pada tahun 1886. Usaha-usaha ini kemudian ditinggalkan, dan ia memusatkan perhatiannya pada Gereja Induk. Untuk menghindari konflik dengan pengadilan Massachusetts, pada tahun 1901 Ny. Eddy memerintahkan para orangtua untuk mengizinkan anak-anak mereka divaksinasi. Ia juga mengakui bahwa tulang yang patah harus diserahkan penyembuhannya kepada dokter. Ia pun mengizinkan penggunaan penghilang rasa sakit apabila pasien mengalami rasa sakit yang luar biasa. Pada tahun 1889 ia mengundurkan diri dari kepemimpinan gereja itu sehingga ia bisa merevisi kembali bukunya. Pada tahun 1910 ia meninggal dunia dalam usia 89 tahun. Setelah kematiannya, Gereja ini dipimpin oleh lima orang direktur tetap yang diangkat oleh Ny. Eddy. Di bawah kepemimpinan mereka, Gereja ini berkembang pesat, namun sejak tahun 1931, jumlah praktisinya menurun, bersamaan dengan menurunnya jumlah anggota Gereja.

Share

Tinggalkan Balasan