Anak Muda Indonesia Kini Harus Putar Otak Untuk Beli Sepatu Vans Orisinal

Ilustrasi sepatu Vans oleh Arman Dzidzovic.

Ilustrasi sepatu Vans oleh Arman Dzidzovic.

Distributor resminya bangkrut dan semua outlet tutup. Sebagian pecinta sepatu ternyata sudah menduga skenario buruk ini sejak lama.

Pecinta sneakers dan skater di Indonesia sedang berduka. Vans resmi menutup bisnisnya di tanah Air setelah distributor resmi, PT Gagan Indonesia, bangkrut. Terhitung sejak 31 Mei, semua outlet Vans resmi tutup di seluruh Indonesia.

Sneakers canvas ini sebetulnya populer di kalangan anak muda Indonesia, khususnya bagi para skater. Masalahnya, berdasarkan analisis beberapa pihak, toko resmi Vans di Indonesia gagal bersaing dengan reseller online serta membanjirnya Vans versi KW.

PT Gagan Indonesia terpaksa tutup buku setelah gagal menjadwal ulang tagihan dari pihak kreditor sebesar Rp273,69 miliar, setara 86,11 persen dari total utang perusahaan. Dengan begini, satu-satunya solusi bagi pecinta sneakers Vans di Indonesia hanyalah toko online.

Belum jelas apakah akan ada distributor baru di masa mendatang. PT. Gagan Indonesia juga merupakan distributor resmi Adidas dan Quicksilver di Indonesia, dan sejauh ini belum ada kejelasan apakah merk-merk tersebut bakal ikut menghilang dari peredaran pasar dalam negeri.

“Konsumen Indonesia sudah pintar sekarang. Dengan kehadiran toko-toko reseller, toko online di Instagram, pre-order, mail order, dan banyak situs retail lokal seperti Kaskus dan Tokopedia, mereka bisa mendapatkan apapun yang mereka mau,” kata Claude Hutasoit dari komunitas Senayan Skateboarders. “Harganya memang kadang-kadang gila, tapi selama mereka puas, ya sah-sah aja.”

Senayan Skateboarders merupakan komunitas skater berbasis Jakarta Pusat yang sudah eksis selama satu dekade. Bagi Claude, penutupan toko Vans di Indonesia mestinya tidak menjadi masalah besar mengingat banyaknya pilihan pembelian. Pasar sepatu skate di Indonesia sejauh ini lumayan stabil. Claude optimis anak-anak muda Indonesia, setidaknya yang aktif main skateboard, masih peduli pada produk asli.

“Jelas akan terasa bedanya pake sepatu asli dan KW. Kamu tidak akan ingin main skate pake yang palsu,” kata Claude. “Kalo ngomongin sepatu skate buat bener-bener skateboarding, terasa beda kualitasnya, kenyamanannya, dan fungsinya antara yang asli dan yang KW. Mereka mungkin kelihatan mirip, dan rasanya juga mirip awalnya, tapi begitu dipake buat skate, yang KW tidak akan bertahan lama.”

Penutupan Vans Indonesia sempat memicu kericuhan di media sosial. Banyak penggemar merk tersebut memulai kampanye online menggunakan tagar #savevansindonesia. Biarpun banyak konsumer telah menunjukkan dukungan mereka terhadap distributor resmi Vans, ternyata banyak kontroversi seputar merk tersebut dalam masa kehidupan mereka yang tidak panjang di Indonesia. Mismanajemen salah satunya.

“Setau gua staf-stafnya tuh suka ngambil jatah produk yang laku dan dijual lagi ke orang,” kata Dita, salah seorang pecinta sepatu Vans di Jakarta. “Yang best seller-nya udah di tag in, itu kejadian pribadi sih.”

Dita mengaku ketika tengah membeli produk sepatu Vans di toko Pondok Indah Mall, tak sengaja mendengar percakapan antara staf yang mengatakan produk yang hendak dia beli sudah dipesan anggota staf lainnya. Seringkali Dita melihat sneakers best seller Vans hampir tidak pernah ada stoknya.

Ada lagi masalah lain yang menurut para pecinta sneakers sedikit merusak citra Vans di Indonesia. Distributor dan brand sepatu ini terkesan tak berusaha menjangkau komunitas untuk mempertahankan pangsa pasar. “Mereka tidak pernah peduli sama komunitas, jadi tidak heran mereka sekarang bangkrut,” kata Kims, pendiri UBC, label hip-hop Jakarta. “Banyak orang merasa [Vans] tidak pernah terlibat dengan pergerakan subkultur.”

Share

Tentang Rinaldo Jonathan

Admin of this site.
Tulisan ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan